Minggu, 04 November 2012

Pantai Gandoriah Pariaman Sumatera Barat

Menikmati sejuta keindahan Pantai Gandoriah yang terletak di Kota Pariaman sekitar 60 kilo dari Kota Padang, tidaklah lengkap rasanya bila tidak melihat langsung dari dekat. Pantai dengan hamparan pasir-pasir putih yang dibaluti hembusan angin sepoi-sepoi serta deretan gugusan pulau-pulau kecil menambah daya tarik pantai kota yang dijuluki Kota Sala Lauak itu.
 
keindahan yang memukau dari Pantai Gandoriah menangkis semua ketakutan akan ancaman gempa dan tsunami sejak terjadinya gempa besar Sumbar pada 30 September lalu. Kunjungan demi kunjungan ke Pantai Gandoriah hingg kini, tak pernah berkurang. Masyarakat dari seluruh penjuru Sumbar masih tetap setia berlama-lama melumat keindahan pantai dengan semua hidangan dan makanan ringan yang dijajakan para pedagang di sekitar lokasi. Pantaslah rasanya bila Pantai Gandoriah tersebut menjadi kebanggaan Rang Piaman sebagai objek wisata keluarga dan syarat dengan nuansa Islami.

Untuk mencari lokasi Pantai Gondoriah ini, memang tidak terlalu susah, pengunjung cukup bertanya pada penduduk yang ditemui di sekitar kawasan Pasar Tabuik Pariaman, dipastikan dengan ramah mereka akan langsung menunjukkan lokasinya. Atau bagi pengunjung yang datang dari Kota Padang, apalagi yang naik kereta api, jelas tidak akan kesulitan menemukan lokasi Pantai ini, karena kebetulan letak stasiun pemberhentian kereta api Pariaman persis berada di pintu gerbang Pantai Gandoriah. Cukup melangkah beberapa langkah, pengunjung sudah tiba di kawasan objek wisata Pantai Gandoriah.

Ketika sampai disini, dan memasuki gerbang depan pantai, pengunjung dapat melepas lelah di beberapa palanta yang disediakan oleh pedagang. Tak perlu beranjak dari tempat duduk, cukup duduk santai sambil menikmati pemandangan pantai, puluhan penjaja Sala Lauak datang dengan sendirinya. Para pengunjung dimanjakan dengan berbagai macam jajanan yang ditawarkan Ajo dan Uniang ini.
Mulai dari sala lauak, ikan goreng, serta aneka jenis makanan tradisional lainnya. Singkat kata, berkunjung ke Pantai Gandoriah, tak akan membuat Anda bosan. Setiap hari libur atau peringatan hari besar, kawasan objek wisata Pantai Gandoriah ini nyaris tak pernah sepi dari pengunjung.

Terlebih sejak beroperasinya kembali angkutan kereta api yang melayani penumpang jurusan Padang-Pariaman ini, selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah pengunjung, objek wisata yang sarat dengan nuansa islami itu terus menggeliat. Keramahtamahan, canda tawa dan tegur sapa dari para pedagang yang ada di sekitar Pantai Gandoriah juga semakin melengkapi suasana keramaian disana.
Selain itu pengunjung bisa pula memanfaatkan daya tarik lain dari Pantai Gandoriah ini. Diantaranya garis pantai yang jelas terlihat pelupuk mata, baik ketika berjalan ditepinya, atau berkendara dijalur pejalan kaki. Bahkan kini pejalan kaki akan dimanjakan pula dengan kawasan bebas kendaraan yang diprogramkan lewat Car Free Day. Pengunjung dapat leluasa menikmati keindahan pantai tanpa polusi.
Panti Gandoriah terus bersolek. Dukungan lain berupa kelengkapan sarana dan prasarana di sekitar Pantai Gandoriah, termasuk fasilitas jalan yang menghubungkan antara Pantai Gandoriah dengan sejumlah objek wisata pantai yang ada di sekitarnya, seperti Pantai Cermin, Pantai Kata menambah kenyamanan bagi para pengunjung.

Ditambah lagi telah dicanangkannya program “Car Free Day” di kawasan itu. Benar-benar para pengunjung akan dimanjakan dengan kawasan bebas polusi dan kebisingan kendaraan. Selain sehat, wisata di Pantai Gandoriah juga menakjubkan.

Bila ditarik sejarahnya, Pariaman di zaman lampau adalah daerah yang dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500-an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Saat itu Tomec Pires mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.
Pada masa itu, dua hingga tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya untuk berdagang dengan sistem barter antara kain dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman pada masa itu telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.

Kemudian, pada tahun berikutnya sekitar tahun 1527 datang lagi pelaut dari Perancis dibawah komando seorang politikus dan pengusaha bernama Jean Ango. Pada waktu itu ia mengirim 2 kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Namun catatan dua bersaudara tersebut tidak banyak ditemukan.

Kemudian pada tahun 1600 untuk pertama kali bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman dengan 2 buah kapal yang dipimpin oleh Paulus Van Cardeen yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan kemudian disusul oleh kapal Belanda lainnya. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596 juga melewati perairan Pariaman.

Tahun 1686, orang Pariaman (Pryaman seperti yang tertulis dalam catatan W Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris. Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.

Berawal dari pembangunan kereta api inilah, kini kereta api dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali geliat pantai Kota Pariaman. Kalau dulu pantai banyak dimanfaatkan sebagai jalur perdagangan. Kini pantai dimanfaatkan sebagai tempat berwisata dan mengenal kembali keindahan Kota Pariaman tempoe doeloe.










1 komentar:

  1. Indah banget pantai Gandoriah Pariaman di Sumbar ini.

    BalasHapus